Penabulu Carbon-Connect
  • BERANDA
  • PROFIL
    • Penabulu
    • Latar
    • Sistem
  • PROGRAM
    • Program Berjalan
    • Program Lalu
  • DOKUMENTASI
    • Kajian dan Laporan
    • Liputan Kegiatan
    • Panduan dan Modul
    • Berita Media
  • KONTAK
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

Archive for category: Liputan

Patroli Perlindungan Hutan Perkuat Pengawasan Kawasan UPT KPHP Kapuas Hulu

6 Juni 2026/in Liputan /by Admin PCC

Kapuas, Juni 2026 — Upaya perlindungan dan pengamanan hutan terus diperkuat melalui kegiatan Patroli Perlindungan dan Pengamanan Hutan di wilayah UPT KPHP Kapuas Hulu Unit X dan XII, yang dilaksanakan pada 2–4 Juni 2026 dengan dukungan Program RBP REDD+ GCF Output 2. Kegiatan ini menyasar wilayah kelola UPT KPHP Kapuas Hulu, khususnya Desa Katunjung dan Desa Durung Koram, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas.

Patroli dilaksanakan oleh tim lapangan bersama UPT KPHP Kapuas Hulu Unit X dan XII untuk mencegah illegal logging, perambahan kawasan, dan kebakaran hutan, sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap kondisi kawasan serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan hutan. Pelaksanaan patroli dilakukan melalui pemantauan langsung di lapangan, pemeriksaan titik-titik rawan, pengumpulan informasi dari masyarakat, serta koordinasi dengan aparat dan pemerintah desa.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kondisi kawasan hutan secara umum masih relatif aman dan terkendali. Tim tidak menemukan indikasi aktivitas ilegal yang menonjol seperti penebangan liar, perambahan kawasan, maupun pembukaan lahan tanpa izin. Meski demikian, sejumlah jalur akses yang berpotensi menjadi titik rawan tetap perlu mendapatkan pengawasan secara berkala. Tim juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk mencegah aktivitas yang dapat mengganggu kelestarian kawasan hutan.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat koordinasi antara UPT KPHP Kapuas Hulu, pemerintah desa, aparat, dan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan. Ke depan, patroli direkomendasikan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, disertai peningkatan pemahaman masyarakat, pemantauan titik rawan, serta kolaborasi pengawasan agar perlindungan hutan dapat berjalan lebih efektif dan berkesinambungan.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/Foto-4.jpeg 960 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-06-06 07:21:212026-09-16 07:25:16Patroli Perlindungan Hutan Perkuat Pengawasan Kawasan UPT KPHP Kapuas Hulu

Perkuat Kesiapsiagaan Warga, Tiga Desa di Garut Bentuk Kelompok Masyarakat Peduli Api

3 Juni 2026/in Liputan /by Admin PCC

Garut, 3 Juni 2026 — Upaya memperkuat peran masyarakat dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan melalui kegiatan Bimbingan Teknis dan Pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di tiga desa di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kegiatan yang mendapatkan pembiayaan dari Program RBP REDD+ GCF Output 2 melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) ini berlangsung pada 2–3 Juni 2026 di Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan, serta 4–5 Juni 2026 di Desa Harumansari, Kecamatan Kadungora, dengan melibatkan masyarakat Desa Karanganyar, Kecamatan Leuwigoong.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan, pengendalian, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan. Pelaksanaan kegiatan melibatkan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah V dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat bersama BKSDA Jawa Barat, Perhutani KPH Garut, Balai Kebakaran Hutan dan Lahan Jabalnusa, OPD Kabupaten Garut, pemerintah desa, TNI, Polri, serta masyarakat di desa sasaran.

Sebanyak 30 warga Desa Karamatwangi, 30 warga Desa Harumansari, dan 30 warga Desa Karanganyar mengikuti rangkaian kegiatan pembentukan MPA. Para peserta mendapatkan pembekalan dari berbagai pihak, mulai dari pengenalan kondisi wilayah, arahan penanganan karhutla dan kedisiplinan, kebijakan pengendalian perubahan iklim, deteksi dini kebakaran hutan dan lahan, hingga pengenalan peralatan pemadaman.

Materi juga mencakup dasar-dasar kebakaran hutan dan lahan, pengendalian perubahan iklim dan aksi adaptasi-mitigasi di tingkat tapak, pemetaan partisipatif, serta praktik pembuatan peta partisipatif desa dan simulasi penanganan karhutla. Pembekalan tersebut diarahkan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan masyarakat agar mampu berperan dalam pencegahan dan penanganan karhutla di wilayahnya.

Hasilnya, tiga kelompok MPA resmi terbentuk. Di Desa Karamatwangi terbentuk MPA “Elang Papandayan” yang terdiri atas dua regu dengan 30 anggota. Sementara di Desa Harumansari terbentuk MPA “Macan Bodas”, dan di Desa Karanganyar terbentuk MPA “Pusaka Haruman”. Masing-masing kelompok terdiri atas dua regu dengan 30 anggota dan dibentuk berdasarkan surat keputusan kepala desa masing-masing.

Untuk mendukung kesiapan di lapangan, setiap kelompok MPA memperoleh perlengkapan patroli dan pemadaman kebakaran, antara lain APD tahan api, gobyok, polaski, golok tebas, jetscooter, sepatu boot, garu pacul, dan masker. Kelompok juga mendapatkan perlengkapan personal berupa topi rimba, kaos dan celana lapangan, serta tempat minum. Peralatan pemadaman diserahkan kepada masing-masing kelompok pada saat penutupan kegiatan melalui berita acara serah terima.

Selain membentuk kelompok dan meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga menjadi langkah untuk menjawab sejumlah tantangan di lapangan, seperti masih terbatasnya partisipasi masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia dalam penanganan karhutla, serta tingginya tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian karhutla.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari di dua lokasi tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu tindak lanjut yang direncanakan. Dengan terbentuknya tiga kelompok MPA di tiga desa, masyarakat diharapkan semakin memiliki kapasitas untuk berperan aktif dalam menjaga wilayahnya dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/jabar3.jpeg 1280 960 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-06-03 19:36:322026-10-06 09:40:17Perkuat Kesiapsiagaan Warga, Tiga Desa di Garut Bentuk Kelompok Masyarakat Peduli Api

Dari Desa Galinggang, Kesiapsiagaan Karhutla Diperkuat melalui Masyarakat Peduli Api

29 April 2026/in Liputan /by Admin PCC

Fasilitasi Penguatan/Pembentukan dan Pelatihan MPA 29 / 04 / 2026

Katingan, 29 April 2026 — Upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu dimulai dari masyarakat yang berada paling dekat dengan wilayah rawan kebakaran. Untuk memperkuat peran tersebut, UPT KPHP Katingan Hilir Unit XXX melaksanakan kegiatan Fasilitasi Pembentukan/Penguatan Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Pelatihan Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan di Desa Galinggang, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, pada 28–29 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Galinggang ini diikuti oleh 30 peserta, yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan masyarakat Desa Galinggang. Kegiatan menghadirkan Alwindra, S.Hut. dari UPT KPHP Katingan Hilir Unit XXX serta Irwan dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan sebagai narasumber.

Kegiatan dilaksanakan untuk memberikan pembekalan teknis sekaligus memperkuat kemandirian dan kapasitas masyarakat dalam mendukung upaya pengendalian karhutla. Peserta diharapkan memahami berbagai jenis kebakaran serta teknik pemadaman dini, baik menggunakan peralatan manual maupun peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Selain pembekalan, kegiatan juga menjadi ruang bagi peserta untuk berdiskusi mengenai peran MPA setelah terbentuk, tindak lanjut pembinaan dan pemantauan oleh KPHP, serta teknik pemadaman ketika menghadapi kondisi angin kencang. Dari diskusi tersebut dijelaskan bahwa MPA memiliki sejumlah peran penting, antara lain mencegah kebakaran hutan dan lahan, melakukan pemadaman sedini mungkin ketika menemukan sumber api, memberikan informasi kejadian karhutla, meningkatkan kesadaran masyarakat, melakukan penyuluhan, serta melaksanakan pertemuan rutin untuk memperkuat organisasi.

Dalam kegiatan tersebut juga dijelaskan bahwa MPA binaan UPT KPHP Katingan Hilir akan mendapatkan pembinaan, monitoring, dan evaluasi kinerja setiap tahun. Sementara itu, untuk menghadapi kebakaran di lapangan, peserta diperkenalkan dengan beberapa metode pemadaman, yaitu flanking attack atau pemadaman dari sisi/samping api, indirect attack dengan membuat sekat bakar atau garis pertahanan, serta pincer attack atau metode menjepit dari kedua sisi api.

Hasil diskusi juga menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap dukungan sarana dan prasarana dari pemerintah, baik pemerintah kabupaten maupun provinsi, guna mendukung pelaksanaan tugas MPA. Di sisi lain, MPA Desa Galinggang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mengenai jenis kebakaran dan teknik pemadaman dini, sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ancaman karhutla.

Keberadaan MPA juga diharapkan dapat memperkuat deteksi dan respons awal terhadap kebakaran, termasuk menyampaikan informasi kejadian karhutla, menyebarluaskan informasi tingkat bahaya kebakaran hutan dan lahan, serta melakukan sosialisasi bersama para pihak terkait.

Melalui kegiatan ini, pembentukan dan penguatan MPA Desa Galinggang menjadi salah satu langkah untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi karhutla. Masyarakat tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk memiliki peran aktif dalam mencegah, mendeteksi, melaporkan, dan melakukan penanganan awal kebakaran hutan dan lahan.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/April-2026-MPA-Galinggang.jpg 720 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-04-29 09:04:502026-09-15 16:20:53Dari Desa Galinggang, Kesiapsiagaan Karhutla Diperkuat melalui Masyarakat Peduli Api

Perkuat Pengelolaan Wisata Alam, Tiga Kelompok di Garut Terima Dukungan Sarana Camping Ground

23 April 2026/in Liputan /by Admin PCC

Garut, Jawa Barat, 23 April 2026— Pengembangan potensi wisata berbasis lingkungan di Kabupaten Garut mendapat dukungan melalui penyediaan sarana dan prasarana camping ground bagi tiga Kelompok Perhutanan Sosial (KPS). Dukungan tersebut menyasar KPS Karamat Jaya, KPS Nangklak Jaya, dan KPS Sinar Mandalawangi yang berada di Kecamatan Cisurupan dan Kecamatan Kadungora.

Penyediaan fasilitas ini dilakukan berdasarkan hasil survei kebutuhan yang sebelumnya dilaksanakan pada 22–23 April 2026. Survei tersebut mengidentifikasi berbagai kebutuhan kelompok dalam mendukung pengelolaan camping ground, sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap pengelolaan jasa lingkungan di wilayahnya.

Fasilitas yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Dukungan mencakup berbagai perlengkapan kegiatan luar ruang seperti tenda camping, matras, sleeping bag, serta tenda dengan kapasitas lebih besar. Sejumlah fasilitas pendukung juga disediakan, antara lain tempat sampah terpilah, toren air, wastafel, pipa HDPE, lampu camping, hingga tandu lipat.

Penyaluran dukungan berlangsung di tiga lokasi. KPS Sinar Mandalawangi menerima bantuan di Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora, sementara KPS Nangklak Jaya dan KPS Karamat Jaya menerima dukungan di wilayah Kecamatan Cisurupan. Proses tersebut melibatkan LEMTARA Penabulu Provinsi Jawa Barat, CDK V Kabupaten Garut, serta perwakilan dari ketiga KPS.

Dokumentasi kegiatan menunjukkan penyerahan perlengkapan dilakukan secara langsung kepada perwakilan kelompok di lokasi camping ground.

Dukungan sarana ini diharapkan dapat membantu kelompok masyarakat mengembangkan pengelolaan camping ground secara lebih baik, sekaligus membuka peluang pemanfaatan potensi jasa lingkungan secara berkelanjutan. Dengan fasilitas yang lebih memadai, pengelolaan kawasan diharapkan tidak hanya mendukung aktivitas wisata alam, tetapi juga memperkuat peran masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan lingkungan di wilayahnya.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/WhatsApp-Image-2026-09-23-at-13.44.48.jpeg 1080 1440 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-04-23 20:01:522026-10-06 09:40:31Perkuat Pengelolaan Wisata Alam, Tiga Kelompok di Garut Terima Dukungan Sarana Camping Ground

Dari Ruang Penilaian ke Rencana Aksi, 20 KPH di Kalimantan Tengah Perkuat Fondasi Pengelolaan Hutan

15 Maret 2026/in Liputan /by Admin PCC

Jakarta, 15 Maret 2026 — Pengelolaan hutan yang berkelanjutan membutuhkan perencanaan yang kuat dan dapat diterapkan di lapangan. Karena itu, kualitas dokumen Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) menjadi salah satu bagian penting dalam memastikan pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) berjalan terarah dan sesuai dengan kebijakan yang berlaku.

Upaya memperkuat kualitas perencanaan tersebut dilakukan melalui kegiatan Penilaian dan Pengesahan Dokumen RPHJP KPH Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2026 yang berlangsung pada 8–15 Maret 2026 di Hotel Santika Premiere Slipi dan Hotel Arya Duta Menteng, Jakarta.  Sebanyak 20 unit KPH difasilitasi untuk mempresentasikan dokumen RPHJP di hadapan tim penilai dari Direktorat Bina Rencana Pemanfaatan Hutan (BRPH), Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Kementerian Kehutanan. Proses tersebut melibatkan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Tim RBP Kalteng Yayasan Penabulu, serta berbagai UPT KPH di Kalimantan Tengah.

Dalam setiap sesi, masing-masing KPH memaparkan substansi RPHJP yang telah disusun. Pembahasan mencakup aspek tata hutan, rencana pengelolaan, serta kesesuaian dokumen dengan regulasi yang berlaku. Paparan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari tim penilai dan penanggap di lingkungan Kementerian Kehutanan. Proses penilaian tidak berhenti pada pemberian catatan. Tim penilai memberikan masukan teknis, melakukan klarifikasi terhadap data dan informasi yang disampaikan, serta menyusun rekomendasi perbaikan untuk masing-masing dokumen. Diskusi berlangsung secara interaktif sehingga peserta dari setiap KPH dapat langsung merespons berbagai hal yang perlu diperjelas atau disempurnakan.

Tahap berikutnya dilanjutkan melalui coaching clinic selama dua hari. Pendampingan ini difokuskan pada perbaikan dokumen berdasarkan hasil penilaian, penyempurnaan struktur dan substansi, serta penyesuaian dengan sistem Si-RPHJP. Tim teknis dari Direktorat BRPH bersama Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah memberikan pendampingan secara intensif selama proses tersebut.

Rangkaian proses ini menghasilkan catatan penilaian dan rekomendasi teknis yang menjadi dasar bagi KPH untuk memperbaiki dokumen masing-masing. Dari kegiatan tersebut, kualitas dokumen RPHJP diperkuat melalui proses review, pendampingan, dan penyempurnaan sesuai arahan tim penilai.

Namun, pelaksanaan kegiatan juga menghadapi sejumlah tantangan. Dari 33 unit KPH di Kalimantan Tengah, baru 20 unit yang dapat difasilitasi dalam kegiatan ini. Keterbatasan kapasitas tim Kementerian Kehutanan dan kesiapan masing-masing KPH menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cakupan pelaksanaan. Selain itu, beberapa perbaikan membutuhkan data terbaru yang tersedia di tingkat Kementerian Kehutanan, tetapi belum dimiliki oleh KPH.

Perubahan aturan penyusunan RPHJP yang mulai diterapkan pada 1 April 2026 juga menjadi perhatian. Unit KPH yang belum melakukan ekspose perlu menyesuaikan dokumennya dengan ketentuan terbaru. Kondisi ini membuat koordinasi dan pendampingan menjadi penting agar proses penyusunan tetap berjalan sesuai perkembangan kebijakan.

Setelah kegiatan berlangsung, setiap KPH diharapkan segera menindaklanjuti seluruh catatan dan rekomendasi hasil penilaian. Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah akan memantau perkembangan perbaikan dokumen, sementara pendampingan lanjutan diperlukan hingga dokumen memperoleh pengesahan resmi. Integrasi dengan sistem Si-RPHJP juga menjadi bagian dari tindak lanjut yang perlu diperkuat.

Kegiatan ini melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, unit-unit KPH, serta Tim RBP Kalteng Yayasan Penabulu. Pelaksanaannya merupakan bagian dari Program RBP REDD+ GCF Output 2, yang didukung BPDLH melalui Lemtara – Yayasan Penabulu.

Pada akhirnya, penyempurnaan RPHJP bukan sekadar proses memenuhi persyaratan dokumen. Rencana yang disusun menjadi dasar bagi KPH dalam menentukan arah pengelolaan hutan dalam jangka panjang. Dengan proses penilaian, dialog teknis, dan pendampingan yang dilakukan bersama, perencanaan diharapkan semakin mampu menjawab kebutuhan pengelolaan hutan di tingkat tapak sekaligus mendukung agenda pengelolaan hutan berkelanjutan dan penurunan emisi gas rumah kaca.

 

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/WhatsApp-Image-2026-04-01-at-22.59.451.jpeg 1002 1600 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-03-15 07:40:512026-09-29 07:41:44Dari Ruang Penilaian ke Rencana Aksi, 20 KPH di Kalimantan Tengah Perkuat Fondasi Pengelolaan Hutan

Papua Barat Daya Salurkan 7.608 Bibit MPTS untuk Rehabilitasi Lahan dan Pem

12 Maret 2026/in Liputan /by Admin PCC

Sorong, Maret 2026 — Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui kegiatan fasilitasi bantuan bibit tanaman menyalurkan 7.608 bibit Multi Purpose Tree Species (MPTS) kepada kelompok tani dan masyarakat di sejumlah wilayah Papua Barat Daya. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program RBP REDD+ GCF Output 2 Papua Barat Daya Tahun 2026.

Penyaluran bibit dilaksanakan kepada masyarakat dan kelompok penerima manfaat di Kabupaten Maybrat, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Tambrauw, dan Kabupaten Sorong. Jenis bibit yang disalurkan meliputi gaharu sebanyak 1.426 batang, armon 2.000 batang, rambutan okulasi 1.400 batang, mangga okulasi 1.450 batang, serta nilam 1.332 batang.

Kegiatan ini bertujuan mendukung rehabilitasi lahan, peningkatan tutupan vegetasi, konservasi lingkungan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tanaman MPTS dipilih karena memiliki manfaat ekologis sekaligus ekonomi melalui hasil buah, kayu maupun hasil non-kayu.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah kampung dan kelompok penerima, penentuan lokasi tanam, distribusi bibit, serta penanaman dan pemeliharaan. Masyarakat juga didorong untuk melakukan penyiraman, penyiangan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit agar bibit dapat tumbuh dengan baik.

Penyaluran bibit antara lain dilakukan di Kampung Ayawasi Kabupaten Maybrat, Kampung Wen dan Kampung Sasnek Kabupaten Sorong Selatan, Distrik Kebar dan Kampung Hopmare Kabupaten Tambrauw, serta sejumlah kampung di Kabupaten Sorong.

Melalui kegiatan ini, diharapkan penanaman MPTS dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan, pengembangan agroforestri, ketahanan pangan, serta pembangunan berkelanjutan di Papua Barat Daya.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/03/Bibit-PBD.jpeg 395 559 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-03-12 17:49:422026-09-17 11:45:41Papua Barat Daya Salurkan 7.608 Bibit MPTS untuk Rehabilitasi Lahan dan Pem

Perkuat Kapasitas Penghitungan Emisi GRK, Kalimantan Tengah Gelar Workshop Seri 2

6 Maret 2026/in Liputan /by Admin PCC

Palangka Raya, 6 Maret 2026 — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Yayasan PENABULU kembali memperkuat kapasitas teknis daerah dalam penghitungan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui Workshop Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca Provinsi Kalimantan Tengah Seri 2. Kegiatan yang berlangsung pada 5–6 Maret 2026 di Palangka Raya ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program RBP Green Climate Fund (GCF) Output 2 Provinsi Kalimantan Tengah, dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan di tingkat provinsi dan nasional.

Workshop ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan institusi teknis dalam menghitung emisi dari deforestasi, degradasi hutan, dekomposisi gambut, dan kebakaran gambut, sekaligus mengenalkan Uncertainty Analysis sebagai bagian penting dalam penyusunan Forest Reference Level (FRL). Peserta berasal dari Bapperida, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, 18 Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Bappeda/Bapperida kabupaten/kota, perguruan tinggi, serta mitra pembangunan.

Selama dua hari, peserta tidak hanya mendapatkan paparan metodologi, tetapi juga melakukan praktik pengolahan dan analisis data spasial menggunakan GIS, JERP Toolbox, dan Microsoft Excel. Materi mencakup analisis perubahan tutupan lahan, penghitungan emisi deforestasi dan degradasi, emisi dari gambut dan kebakaran, hingga penerapan Monte Carlo Simulation untuk mengukur ketidakpastian hasil perhitungan.

Salah satu hasil praktik menunjukkan estimasi awal emisi dari perubahan tutupan lahan periode 2011–2020 sekitar 1,9 juta ton CO₂, sebelum memasukkan faktor ketidakpastian. Analisis perubahan tutupan lahan juga menghasilkan sejumlah data penting, antara lain deforestasi sekitar 915 ribu hektare dan degradasi hutan sekitar 132 ribu hektare. Data tersebut menjadi bahan penting untuk memperkuat inventarisasi emisi dan penyusunan baseline emisi daerah.

Workshop juga menekankan pentingnya penggunaan data resmi dan sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV) agar hasil penghitungan emisi dapat dipertanggungjawabkan. Ke depan, kegiatan akan ditindaklanjuti melalui peningkatan kapasitas SDM kabupaten/kota dan pelatihan teknis tambahan, khususnya terkait penerapan Monte Carlo Simulation.

Melalui kegiatan ini, Kalimantan Tengah diharapkan semakin memiliki kapasitas dan data yang kuat untuk mendukung pengendalian emisi GRK, pengelolaan hutan berkelanjutan, serta perencanaan pembangunan rendah emisi berbasis data.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/Foto-1-1-scaled.jpg 1707 2560 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-03-06 07:28:002026-09-16 07:33:33Perkuat Kapasitas Penghitungan Emisi GRK, Kalimantan Tengah Gelar Workshop Seri 2

Belajar dari Jambi, Pokja REDD+ Kalimantan Selatan Perkuat Persiapan Akses Pendanaan Berbasis Kinerja

8 Februari 2026/in Liputan /by Admin PCC

Jambi, 8 Februari 2026 — Pokja REDD+ Provinsi Kalimantan Selatan melakukan studi banding ke Provinsi Jambi untuk mempelajari pelaksanaan program BioCarbon Fund Integrated Sustainable Forest Landscape (BioCF-ISFL) sebagai bagian dari persiapan penguatan implementasi REDD+ di Kalimantan Selatan. Kegiatan berlangsung pada 8–11 Februari 2026 di Bappeda Provinsi Jambi dan Desa Mekarjaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kegiatan ini mendapatkan pembiayaan dari Program RBP REDD+ GCF Output 2 melalui BPDLH, dengan Lemtara–Yayasan Penabulu sebagai pelaksana/mitra program.

Kunjungan ini diikuti oleh unsur Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan dan dipimpin Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. Sebanyak 46 peserta, terdiri dari 29 laki-laki dan 17 perempuan, terlibat dalam kegiatan yang mempertemukan para pihak dari Jambi dan Kalimantan Selatan, termasuk Bappeda, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, pengelola BioCF Jambi, serta penerima manfaat program.

Pembelajaran dilakukan melalui diskusi dan berbagi pengalaman serta kunjungan lapangan. Dalam pertemuan di Bappeda Provinsi Jambi, rombongan mempelajari tahapan pelaksanaan BioCF-ISFL, mulai dari fase persiapan, pra-investasi hingga pembayaran berbasis hasil (Results Based Payment/RBP). Pembahasan juga mencakup kelembagaan, sistem pengukuran dan pelaporan emisi (MAR), mekanisme pembagian manfaat (BSM), monitoring dan evaluasi, serta safeguard.

Pembelajaran tersebut menjadi relevan bagi Kalimantan Selatan yang saat ini sedang mempersiapkan dokumen Arsitektur REDD+. Dari pengalaman Jambi, Pokja REDD+ Kalimantan Selatan memperoleh gambaran mengenai kebutuhan kelembagaan, dokumen strategis, sistem pengukuran dan pelaporan, mekanisme pembagian manfaat, serta kerangka pengaman yang diperlukan untuk mendukung kesiapan menuju pendanaan berbasis hasil.

Selain diskusi, rombongan melakukan kunjungan ke Desa Mekarjaya untuk melihat pengembangan budidaya Pinang Betara. Kunjungan ini memberikan pembelajaran mengenai teknik penangkaran varietas pinang yang telah diakui sebagai varietas unggul nasional, sekaligus melihat praktik pengembangan komoditas yang menjadi bagian dari kegiatan di tingkat tapak.

Dari rangkaian pembelajaran tersebut, Pokja REDD+ Kalimantan Selatan merekomendasikan penguatan kelembagaan REDD+ subnasional, percepatan penyusunan Arsitektur REDD+ dan Benefit Sharing Plan (BSP), pengembangan sistem Measurement, Monitoring and Reporting (MAR) berbasis yurisdiksi, serta penguatan mekanisme safeguard dan FGRM yang partisipatif. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan Kalimantan Selatan dalam mengakses pendanaan berbasis kinerja dan mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca secara berkelanjutan.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/SRI-REZEKI.-PENANGKARAN-PINANG-TGL-10-FEB-2026-5.jpeg 1200 1600 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-02-08 20:06:172026-09-22 20:08:48Belajar dari Jambi, Pokja REDD+ Kalimantan Selatan Perkuat Persiapan Akses Pendanaan Berbasis Kinerja

Kembangkan Silvopastura, KTH di Tanah Laut Kalimantan Selatan Terima Bantuan Ternak

26 Januari 2026/in Liputan /by Admin PCC

Tanah Laut, 26 Januari 2026 — Pengembangan silvopastura di wilayah kerja KPH Tanah Laut, Kalimantan Selatan, terus diperkuat melalui pemberian bantuan ternak kepada kelompok tani hutan (KTH). Kegiatan yang berlangsung pada 26–28 Januari 2026 ini mendapatkan pembiayaan dari Program RBP REDD+ GCF Output 2 melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).

Kegiatan dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan bersama KPH Tanah Laut dengan melibatkan kelompok tani hutan dan pemerintah desa. Bantuan diberikan kepada KTH Bumi Priangan di Desa Bumi Jaya, Kecamatan Pelaihari, serta KTH Gunung Birah di Desa Kandangan Lama, Kecamatan Panyipatan.

Dalam pelaksanaannya, KTH Bumi Priangan menerima 10 ekor sapi, sementara KTH Gunung Birah menerima 25 ekor kambing. Bantuan tersebut menjadi bagian dari pengembangan silvopastura yang mengintegrasikan kegiatan peternakan dengan pengelolaan kawasan hutan.

Selain penyerahan bantuan, kegiatan juga mencakup kunjungan lapangan untuk melihat kondisi dan kesiapan kelompok dalam mengembangkan usaha peternakan. Pengembangan kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat, peningkatan kesejahteraan kelompok, dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Bantuan ternak diharapkan dapat dikelola dan dikembangkan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok sekaligus tetap mendukung kelestarian hutan di wilayah KPH Tanah Laut.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/Foto-16.jpeg 960 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-01-26 20:01:392026-09-22 20:01:58Kembangkan Silvopastura, KTH di Tanah Laut Kalimantan Selatan Terima Bantuan Ternak

Menata Masa Depan Tahura Isen Mulang Sebangau di Kalimantan Tengah, 10 Tahun Pengelolaan Disusun Bersama

30 Desember 2025/in Liputan /by Admin PCC

Palangka Raya, 30 Desember 2025 — Bagaimana memastikan kawasan konservasi tetap terlindungi, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya? Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam Konsultasi Publik Rancangan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Hutan Raya Isen Mulang Sebangau Berkah (Tahura IMSB) Provinsi Kalimantan Tengah, yang digelar pada 30 Desember 2025 di Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya.

Forum ini menjadi ruang bagi berbagai pihak untuk membahas rancangan arah pengelolaan Tahura IMSB untuk periode 2026–2035, yang mempertemukan unsur pemerintah pusat dan daerah, akademisi, lembaga konservasi, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, serta tim kerja penyusunan RPJP.

Konsultasi publik dilakukan untuk membuka ruang masukan terhadap rancangan yang telah disusun. Peserta diminta memberikan saran, koreksi, dan pandangan mengenai visi, misi, tujuan pengelolaan hingga rencana aksi sepuluh tahun. Proses tersebut juga diarahkan untuk membangun kesepakatan bersama serta memperkuat koordinasi dalam pengelolaan kawasan konservasi yang berada dalam bentang Daerah Aliran Sungai (DAS) Sebangau.

Dalam pembahasan, pengelolaan Tahura IMSB ditempatkan dalam konteks tantangan yang dihadapi kawasan konservasi di Kalimantan Tengah. Balai KSDA Kalimantan Tengah mencatat adanya tekanan berupa aktivitas penambangan, permukiman, kebun masyarakat, klaim lahan, dan kebakaran hutan di kawasan Sungai Sebangau. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan pengelolaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berbasis kondisi ekologis dan sosial di lapangan.

Salah satu pendekatan yang ditekankan adalah pengelolaan berdasarkan Nilai Penting Kawasan (NPK). Nilai tersebut mencakup potensi ekologis, sosial, budaya, hingga bentang alam yang menjadi dasar dalam menentukan tujuan dan strategi pengelolaan. Perlindungan kawasan juga diarahkan untuk didukung pemantauan berbasis data, termasuk melalui SMART Patrol, camera trap, dan survei satwa.

Hubungan antara Tahura IMSB dan kawasan di sekitarnya turut menjadi perhatian. Dalam pemaparan Balai Taman Nasional Sebangau, kolaborasi lintas pihak dinilai penting karena Tahura IMSB dan Taman Nasional Sebangau memiliki keterkaitan ekologis dalam satu bentang lanskap. Risiko kebakaran, kondisi rawa gambut, serta kebutuhan restorasi hidrologi menjadi isu yang membutuhkan koordinasi antarkawasan.

Dari proses penyusunan rancangan, Tahura IMSB diarahkan memiliki visi sebagai kawasan yang lestari dengan ekosistem rawa gambut sebagai penyangga kehidupan sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat. Pengelolaannya mencakup kepastian kawasan, pemulihan gambut, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan konservasi dan ekowisata berbasis masyarakat.

Rencana tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sejumlah tujuan pengelolaan selama sepuluh tahun. Di antaranya adalah penyelesaian persoalan batas dan tenurial, restorasi hidrologi gambut, pencegahan dan penanggulangan kebakaran, perlindungan habitat satwa, pengembangan pertanian dan perikanan berkelanjutan, ekowisata, pemanfaatan potensi karbon, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penguatan sistem data, riset, dan pemantauan juga menjadi bagian dari rencana tersebut.

Dokumen rancangan juga memuat rencana aksi 2026–2035 yang dilengkapi strategi pengelolaan, kegiatan, indikator keberhasilan, pihak yang terlibat, lokasi, serta estimasi anggaran dan waktu pelaksanaan. Total estimasi anggaran yang tercantum dalam rencana aksi mencapai Rp79,1675 miliar, dengan sumber pendanaan yang direncanakan berasal dari berbagai pihak, termasuk APBD, RBP REDD+ GCF, CSR, dan mitra.

Konsultasi publik juga menghasilkan agenda tindak lanjut. Masukan peserta akan dikompilasi untuk menyempurnakan rancangan RPJP, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara. Dalam jangka pendek, dokumen akan difinalisasi dan diajukan untuk penilaian, sementara koordinasi dengan Balai Taman Nasional Sebangau akan dilakukan untuk menyelaraskan rencana pengelolaan kedua kawasan. Tahapan berikutnya mencakup proses penilaian dan pengesahan, penyusunan rencana jangka pendek untuk tahun pertama implementasi, persiapan sumber daya dan penguatan kapasitas tim. Dalam rentang 6–12 bulan, agenda diarahkan pada penetapan pengesahan RPJP, sosialisasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan, persiapan kelembagaan pengelola, serta dimulainya implementasi rencana aksi pada 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program RBP REDD+ GCF Output 2 di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, dalam aktivitas fasilitasi penyusunan rencana pengelolaan hutan KPH dan Tahura. Program tersebut dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah bersama Tim RBP Kalimantan Tengah – Yayasan Penabulu.

 

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/WhatsApp-Image-2025-12-30-at-17.40.452.jpeg 960 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2025-12-30 07:36:472026-09-29 07:37:42Menata Masa Depan Tahura Isen Mulang Sebangau di Kalimantan Tengah, 10 Tahun Pengelolaan Disusun Bersama
Page 2 of 41234
  • BERANDA
  • PROFIL
    • Penabulu
    • Latar
    • Sistem
  • PROGRAM
    • Program Berjalan
    • Program Lalu
  • DOKUMENTASI
    • Kajian dan Laporan
    • Liputan Kegiatan
    • Panduan dan Modul
    • Berita Media
  • KONTAK

Berita Media

  • Memperkuat Pengelolaan Sampah Organik Menuju Desa Tangguh Iklim
  • Pemprov PBD terapkan skema jual beli karbon optimalkan potensi hutan
  • Temui Menteri LHK, Gubernur Riau Bahas RPB REDD+ sebagai Skema Pendanaan Lingkungan
Berita selengkapnya

VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=jscKBSRaCO8&t

HUBUNGI KAMI

Jl. Dukuh Patra II No.76, RT.1/RW.13, Menteng Dalam, Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12870

t: (021) 38825484
e: info@penabulu.id

© 2026 Penabulu Carbon Connect
  • Bagian dari Penabulu Foundation
Scroll to top Scroll to top Scroll to top