Dari Bank Sampah Hingga Kebun Desa: Warga Lambang Sari V Siap Wujudkan Program Kampung Iklim Bersama RBP REDD+ Riau
INDRAGIRI HULU — Upaya menahan laju perubahan iklim tidak selalu bermula dari panggung kebijakan global, melainkan dari langkah-langkah nyata yang dirawat warga di pekarangan dan sudut-sudut desa. Semangat inilah yang mengemuka dalam agenda Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Kampung Iklim (ProKlim) di Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu pada 18 Juni 2026. Melalui dukungan terpadu Program RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi Riau, pertemuan ini menjadi katalisator penting dalam membekali aparatur desa, tokoh masyarakat, serta kelompok perempuan dan pemuda setempat mengenai peran sentral aksi mitigasi dan adaptasi iklim berbasis komunitas.
Pertemuan yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut mengungkap fakta membanggakan: Desa Lambang Sari V sesungguhnya telah menjalankan fondasi ekonomi sirkular yang solid. Warga telah aktif mengelola bank sampah terintegrasi, membudidayakan maggot untuk mengurai sampah organik secara cepat tanpa mencemari tanah, serta mengolah limbah anorganik menjadi produk bernilai jual. Tak berhenti di situ, pembuatan lubang biopori secara mandiri di permukiman warga telah menjadi benteng penyerapan air tanah sekaligus solusi praktis mereduksi limpasan air hujan saat musim basah. Praktik-praktik mandiri ini dinilai menjadi modal awal yang sangat potensial untuk diregistrasikan dan dikembangkan ke dalam skema ProKlim resmi Kementerian LHK.
Pemaparan materi bimtek turut menegaskan bahwa ProKlim melampaui sekadar agenda kelestarian ekologis. Penerapannya terbukti mampu menopang kesejahteraan ekonomi dan mempererat kohesi sosial warga. Terlebih, struktur ProKlim memiliki fleksibilitas tinggi yang dapat diimplementasikan secara bertahap, mulai dari level rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), dusun, hingga mencakup seluruh hamparan desa sesuai dengan dinamika kesiapan modal sosial masing-masing wilayah.
Usai pendalaman teori dan sesi diskusi, tim bersama jajaran pemerintah desa dan warga langsung turun ke lapangan untuk memvalidasi bentang potensi lokal. Survei tapak memperlihatkan kebun desa yang terkelola asri dengan aneka vegetasi peneduh dan tanaman produktif, termasuk komoditas singkong yang kini telah bertransformasi menjadi produk olahan keripik singkong bernilai tambah tinggi. Di sisi lain, keberadaan sentra peternakan ayam petelur warga menjadi pilar penopang ketahanan pangan lokal yang minim emisi distribusi. Seluruh potensi ini menjadi bukti autentik bahwa ketahanan pangan dan ekonomi kreatif di Desa Lambang Sari V berjalan beriringan dengan agenda perlindungan lingkungan.
Antusiasme tinggi tersebut bermuara pada komitmen penuh warga untuk mengawal pelembagaan ProKlim di desanya. Masyarakat menaruh harapan besar pada pendampingan berkelanjutan ke depan, terutama dalam pemantapan kelembagaan pengelola iklim desa, penyediaan sarana dan prasarana penunjang aksi mitigasi-adaptasi, serta penguatan kapasitas teknis kelompok secara berkesinambungan. Keseriusan Desa Lambang Sari V ini menjadi contoh konkret bagaimana program RBP REDD+ GCF mampu menyentuh denyut nadi masyarakat tapak untuk bertumbuh tangguh menghadapi krisis iklim.



