Penabulu Carbon-Connect
  • BERANDA
  • PROFIL
    • Penabulu
    • Latar
    • Sistem
  • PROGRAM
    • Program Berjalan
    • Program Lalu
  • DOKUMENTASI
    • Kajian dan Laporan
    • Liputan Kegiatan
    • Panduan dan Modul
    • Berita Media
  • KONTAK
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

Archive for category: Liputan

Papua Barat Daya Susun Rencana Program Kampung Iklim di Tiga Kabupaten

21 Agustus 2026/in Liputan /by Admin PCC

Sorong, 21 Agustus 2026 — Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Dinas Lingkungan Hidup bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan melaksanakan Penyusunan Rencana Program Kampung Iklim (PROKLIM) Provinsi Papua Barat Daya Tahun Anggaran 2026. Kegiatan berlangsung selama satu hari di Hotel Aimas Convention Center, Kabupaten Sorong.

Kegiatan ini melibatkan perwakilan Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Tambrauw, dan Kabupaten Maybrat, serta unsur perangkat daerah, pemerintah kampung/desa, kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan terkait. Kegiatan dilaksanakan untuk memfasilitasi penyusunan rencana PROKLIM sekaligus meningkatkan pemahaman dan koordinasi dalam menghadapi perubahan iklim.

Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan materi mengenai kebijakan pengendalian perubahan iklim, Program Kampung Iklim, serta upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi, identifikasi permasalahan dan potensi setiap wilayah, serta penyusunan rancangan rencana PROKLIM berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing kabupaten.

Hasil kegiatan menghasilkan tiga rancangan rencana PROKLIM, masing-masing untuk Kabupaten Raja Ampat, Tambrauw dan Maybrat. Rencana tersebut mencakup berbagai potensi aksi adaptasi dan mitigasi, seperti ketahanan pangan, pengelolaan sampah, penanaman pohon, konservasi hutan, perlindungan ekosistem, pengendalian bencana, serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemerintah kabupaten bersama pemerintah kampung/desa, kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan dapat menindaklanjuti rancangan tersebut sesuai karakteristik dan prioritas wilayah masing-masing. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan partisipasi masyarakat dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta mendukung pengendalian perubahan iklim di Provinsi Papua Barat Daya.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/proklim-PBD.jpeg 720 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-08-21 17:47:152026-09-16 17:48:08Papua Barat Daya Susun Rencana Program Kampung Iklim di Tiga Kabupaten

Rumah Jemur Kopi KTH Jaya Abadi Dorong Nilai Tambah Usaha Masyarakat Sekitar Hutan

19 Agustus 2026/in Liputan /by Admin PCC

Tabalong, 19 Agustus 2026 — Pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK) terus didorong sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan. Melalui Program RBP REDD+ GCF Output 2, Lemtara–Yayasan Penabulu bersama Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan dan KPH Tabalong melakukan serah terima sarana rumah pengering kopi yang dibangun untuk KTH Jaya Abadi di Desa Lok Batu, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Sarana ini ditujukan untuk memperkuat pengolahan pascapanen, meningkatkan kualitas dan nilai tambah kopi, serta mendukung pengembangan usaha masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan.

Rumah pengering tersebut telah diuji coba oleh kelompok dan menunjukkan manfaat dalam mempercepat proses pengeringan. Jika sebelumnya penjemuran menggunakan terpal membutuhkan waktu sekitar 20 hari, penggunaan rumah jemur dapat memangkas waktu menjadi sekitar 10 hari dengan tingkat kekeringan yang sama. Fasilitas ini memiliki kapasitas hingga 1,2 ton kopi dalam satu kali penjemuran, sehingga proses pascapanen menjadi lebih efektif. Kopi yang dihasilkan KTH Jaya Abadi juga telah dikembangkan menjadi green bean, kopi roasting, dan kopi bubuk yang dipasarkan hingga sejumlah kafe di Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Penguatan usaha kopi menjadi penting bagi masyarakat Desa Lok Batu yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan, terlebih sebagian kebun masyarakat berada dalam kawasan hutan dan kelompok saat ini tengah mengajukan perizinan Perhutanan Sosial melalui skema Hutan Kemasyarakatan. Dengan meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi komoditas kopi yang telah dibudidayakan masyarakat, pengembangan HHBK ini mendukung penyediaan alternatif penghidupan yang berkelanjutan di sekitar hutan. Dalam konteks RBP REDD+, pendekatan tersebut turut mendukung upaya mengurangi ketergantungan pada pemanfaatan kawasan yang berpotensi mendorong deforestasi dan degradasi hutan, sekaligus memperkuat pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-09-18-at-10.32.51.jpeg 720 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-08-19 20:38:242026-09-19 19:34:14Rumah Jemur Kopi KTH Jaya Abadi Dorong Nilai Tambah Usaha Masyarakat Sekitar Hutan

Patroli KPH Balangan Perkuat Perlindungan Hutan dan Tekan Ancaman Deforestasi

14 Agustus 2026/in Liputan /by Admin PCC

Balangan, 14 Agustus 2026 — Upaya menjaga hutan dari ancaman deforestasi dan degradasi terus dilakukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Balangan melalui patroli pengamanan hutan di Desa Gunung Batu dan Desa Auh, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Dilaksanakan pada 12–14 Agustus 2026, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya preventif untuk mendeteksi dan mencegah pembalakan liar, perambahan kawasan, serta aktivitas lain yang berpotensi mengganggu kelestarian hutan. Langkah tersebut juga diarahkan untuk mengurangi faktor yang dapat meningkatkan emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi hutan.

Dengan melibatkan tujuh personel KPH Balangan, termasuk Polisi Kehutanan dan Tim Pencegahan Karhutla, patroli dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah desa, penyisiran kawasan, pengamatan lapangan, serta pemeriksaan pada lokasi yang dinilai berpotensi mengalami gangguan. Di Desa Gunung Batu, tim tidak menemukan aktivitas pembalakan liar, namun menemukan lahan terbuka sekitar 0,5–1 hektare yang berada di kawasan hutan produksi. Sementara di Desa Auh, tim menemukan sisa pembakaran dan beberapa pohon yang ditebang serta dibakar di sekitar kawasan Hutan Lindung Gunung Haur. Temuan tersebut menjadi informasi penting untuk menentukan langkah pengamanan dan pencegahan lebih lanjut agar gangguan terhadap kawasan hutan tidak berkembang menjadi deforestasi dan degradasi yang lebih luas.

Selain pengawasan lapangan, tim memperkuat pendekatan kolaboratif dengan pemerintah desa dan masyarakat melalui koordinasi serta penyampaian imbauan untuk tidak melakukan penebangan dan pembakaran di sekitar kawasan hutan. Hasil patroli selanjutnya dilaporkan kepada pimpinan sebagai dasar perencanaan tindak lanjut. Melalui pengawasan rutin, deteksi dini, dan keterlibatan masyarakat, kegiatan ini mendukung upaya perlindungan tutupan hutan sekaligus menjaga fungsi hutan dalam menyimpan karbon, sehingga berkontribusi pada upaya pengurangan emisi dari sektor kehutanan.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/Picture2.png 1086 1448 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-08-14 20:25:242026-09-18 20:38:08Patroli KPH Balangan Perkuat Perlindungan Hutan dan Tekan Ancaman Deforestasi

Patroli Karhutla di Garut Temukan Titik Rawan dan Titik Api, Mitigasi Diperkuat di Lapangan

7 Agustus 2026/in Liputan /by Admin PCC

Garut, Jawa Barat, 7 Agustus 2026 — Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali dilakukan di sejumlah wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Selama 5–7 Agustus 2026, tim patroli menyusuri empat desa untuk mengidentifikasi titik rawan kebakaran, mengecek ketersediaan sumber air, serta melakukan penanganan langsung terhadap sejumlah titik api dan bekas kebakaran.

Patroli dilaksanakan oleh Cabang Dinas Kehutanan Wilayah V, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) dan unsur TNI. Kegiatan berlangsung di Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan; Desa Cipareun, Kecamatan Cibiuk; Desa Harumansari, Kecamatan Kadungora; serta Desa Karanganyar, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut.

Patroli dilakukan dengan membawa berbagai peralatan pendukung, mulai dari garu, golok, parang, gepyok, jet shooter, pompa air hingga perangkat GPS dan alat dokumentasi. Tim kemudian melakukan pengecekan kondisi lapangan, mengidentifikasi sumber air, memetakan lokasi yang berpotensi terbakar, serta menemukan sejumlah aktivitas pembakaran atau bekas kebakaran di lahan pertanian dan perkebunan.

Di Desa Karamatwangi, tim menemukan tiga titik sumber air yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi darurat. Namun, patroli juga menemukan sejumlah lokasi rawan akibat pembakaran ladang atau kebun. Di beberapa titik lainnya ditemukan bekas kebakaran dengan luasan sekitar 3 hektare. Tim kemudian melakukan pendekatan kepada pemilik lahan dan penggarap melalui penyuluhan, arahan, dan imbauan agar tidak melakukan pembakaran lahan.

Sementara itu, di Desa Cipareun, tim menemukan sejumlah area dengan rumput kering yang berpotensi “menjadi bahan bakar ” kebakaran. Salah satu sumber air yang ditemukan memiliki debit kecil sehingga belum dapat dijadikan cadangan untuk pemadaman. Di sejumlah lokasi, tim melakukan upaya mitigasi melalui pembuatan sekat bakar, sementara terhadap lahan yang ditemukan memiliki bekas kebakaran dilakukan penyuluhan dan peringatan.

Kondisi serupa ditemukan di Desa Karanganyar. Beberapa titik rawan berada di kawasan hutan bambu dengan serasah yang sangat kering. Kondisi tersebut meningkatkan potensi penyebaran api sehingga anggota MPA melakukan pembuatan sekat bakar sebagai langkah pencegahan. Tim juga menemukan bahwa sumber air di wilayah tersebut memiliki debit kecil dan tidak dapat diandalkan untuk pemadaman apabila terjadi kebakaran.

Di Desa Harumansari, patroli menemukan sumber air Mata Air Cinari dengan debit yang dinilai mencukupi untuk dimanfaatkan saat terjadi kebakaran. Namun, tim juga menemukan sejumlah bekas pembakaran lahan serta titik api. Penanganan dilakukan melalui sosialisasi dan imbauan kepada pemilik lahan, disertai pemadaman api. Salah satu pemadaman dilakukan pada area sekitar 0,2 hektare. Warga yang ditemui juga menyampaikan kesanggupan untuk tidak melakukan pembakaran lahan.

Hasil patroli menunjukkan bahwa tantangan pencegahan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga praktik pengelolaan lahan oleh masyarakat. Laporan mencatat masih adanya masyarakat yang belum memahami dampak ekonomi dan ekologis kebakaran hutan dan lahan, sementara sebagian masih menggunakan pembakaran sebagai bagian dari pengolahan lahan pertanian. Di sisi lain, kondisi semak belukar, hutan bambu, cuaca panas, serta bahan bakar yang kering turut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan selama patroli tidak hanya berupa penindakan, tetapi juga sosialisasi, penyuluhan, imbauan, pembuatan sekat bakar, dan pemadaman ketika ditemukan api. Pendekatan persuasif menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat agar pencegahan kebakaran dapat dilakukan sejak dari tingkat lahan.

Dokumentasi kegiatan juga memperlihatkan tim melakukan patroli langsung di area dengan vegetasi kering dan kawasan bambu, serta melakukan pemadaman di lokasi yang ditemukan masih terdapat api. Di beberapa lokasi, anggota MPA bersama unsur terkait tampak melakukan pengecekan kondisi lahan dan sumber air secara langsung.

Ke depan, penguatan kesiapsiagaan masih diperlukan, termasuk dukungan sarana seperti senter dan alat komunikasi handy talky (HT) untuk memudahkan koordinasi ketika terjadi kebakaran, terutama dalam penanganan pada malam hari. Patroli ini menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan di tingkat tapak sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan sejak dini.

 

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/WhatsApp-Image-2026-09-21-at-15.27.18.jpeg 480 640 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-08-07 20:20:212026-09-22 20:21:39Patroli Karhutla di Garut Temukan Titik Rawan dan Titik Api, Mitigasi Diperkuat di Lapangan

Perkuat Tata Kelola Safeguard REDD+, Pemerintah Daerah dari 12 Provinsi Ikuti Workshop SISREDD+ dan ESMS BPDLH

6 Agustus 2026/in Liputan /by Admin PCC

Jakarta, 6 Agustus 2026 — Upaya memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam memastikan pelaksanaan program REDD+ yang transparan, inklusif, dan berkelanjutan terus dilakukan. Salah satunya melalui workshop “Penguatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Identifikasi Alat Penilai Pelaksanaan Safeguard (APPS) SISREDD+ dan Kepatuhan Safeguard BPDLH dalam Implementasi Program Result-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) Output 2”, yang berlangsung pada 4–6 Agustus 2026 di Hotel Kimaya Slipi Jakarta.

Kegiatan ini mempertemukan 36 peserta dari 12 provinsi penerima alokasi RBP GCF Output 2, yakni Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Papua Barat Daya, Kalimantan Tengah, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Turut terlibat pula lima lembaga perantara, yaitu Yayasan Penabulu, Kemitraan, KKI Warsi, Yayasan Aku Rimba Indonesia, dan Relung Indonesia.

Workshop ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menyelaraskan penerapan Sistem Informasi Safeguard REDD+ (SISREDD+) dengan Environmental and Social Management System (ESMS) BPDLH, khususnya dalam implementasi RBP GCF Output 2. Penyelarasan tersebut menjadi penting karena pemerintah daerah tidak hanya dituntut memenuhi indikator safeguard REDD+, tetapi juga harus mampu melakukan penapisan risiko lingkungan dan sosial, menyusun langkah mitigasi, menyiapkan bukti pelaksanaan atau Means of Verification (MoV), serta memastikan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) diterapkan dalam program.

Menyatukan pemahaman tentang safeguard REDD+ dan BPDLH

Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan mulai dari konsep dasar safeguard REDD+, kebijakan perdagangan karbon sektor kehutanan, penggunaan APPS dalam SISREDD+, hingga penerapan 12 IEF’s Safeguard Principles (ISP) BPDLH.

Pada hari pertama, pembahasan diawali dengan sosialisasi Permenhut No. 6 Tahun 2026 mengenai tata cara perdagangan karbon sektor kehutanan melalui offset emisi GRK sebagai turunan dari Perpres 110/2025. Peserta kemudian memperdalam konsep REDD+ dan tujuh Cancun Safeguards, termasuk bagaimana pemenuhannya dinilai melalui APPS pada platform SISREDD+ serta bagaimana mekanisme aspirasi masyarakat terintegrasi dengan SP4N-LAPOR!.

Pembahasan juga menyoroti pentingnya menyelaraskan 12 prinsip perlindungan lingkungan dan sosial BPDLH dengan SISREDD+. Penyelarasan difokuskan pada aspek hukum, sosial, dan lingkungan agar pelaksanaan program dapat berjalan transparan, menjaga integritas karbon, sekaligus menghindari beban pelaporan ganda bagi pemerintah daerah.

Pengalaman implementasi BioCF-ISFL di Provinsi Jambi turut menjadi pembelajaran bagi peserta. Praktik di Jambi menunjukkan bagaimana kelembagaan safeguard dapat diperkuat hingga tingkat tapak, termasuk pelaksanaan FPIC/PADIATAPA dengan dukungan 230 desa, mekanisme FGRM multi-kanal, serta penguatan legalitas pengakuan Masyarakat Hukum Adat dan penetapan lokasi Hutan Adat.

Dari teori menuju praktik pengisian APPS

Memasuki hari kedua, peserta diarahkan pada aspek yang lebih teknis, khususnya pengisian data pada SISREDD+. Materi mencakup alur pengunggahan data, penyiapan dokumen pendukung, penetapan baseline, pemetaan sumber pendanaan, hingga identifikasi dokumen hukum dan administrasi yang diperlukan.

Peserta juga mempelajari pembagian peran antara Administrator Sistem, yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan akun dan akses, dengan Tim Database, yang berperan dalam pengumpulan dan pemeliharaan dokumen pendukung.

Sesi berikutnya membahas penyusunan Ringkasan Informasi Pelaksanaan Safeguard (RIPS) tingkat subnasional. Melalui diskusi kelompok dan presentasi, perwakilan provinsi mulai memetakan dokumen hukum serta instrumen safeguard yang telah tersedia sekaligus mengidentifikasi kebutuhan data yang masih harus dilengkapi.

Proses ini juga membuka ruang bagi peserta untuk mendiskusikan tantangan yang selama ini dihadapi pemerintah daerah, termasuk koordinasi antarinstansi dan proses memperoleh dokumen atau data yang bersifat sensitif.

GEDSI dan pengelolaan risiko menjadi bagian penting

Pada hari ketiga, fokus kegiatan bergeser pada penerapan 12 ISP BPDLH, penapisan risiko lingkungan dan sosial, serta validasi dokumen bukti pelaksanaan.

Salah satu penekanan utama adalah pengarusutamaan GEDSI melalui ISP 12. Peserta diajak memahami bahwa prinsip GEDSI bukan sekadar memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang, tetapi memastikan adanya keadilan melalui penyesuaian dukungan berdasarkan kebutuhan kelompok rentan.

Pembahasan menggunakan empat pilar Analisis AKPM, yaitu akses, partisipasi bermakna, kontrol atau kewenangan dalam pengambilan keputusan, serta distribusi manfaat. Dalam kerangka ESMS BPDLH, GEDSI ditempatkan sebagai isu lintas sektor yang terintegrasi dengan ISP 1–11, termasuk untuk memitigasi risiko eksklusi kelompok rentan, dominasi elite lokal, dan potensi kekerasan berbasis gender.

Peserta kemudian melakukan praktik penyelarasan dokumen MoV SISREDD+ dan ISP BPDLH, mulai dari dokumen legalitas dan perencanaan, AMDAL/UKL-UPL, FPIC/PADIATAPA, daftar hadir terpilah gender dan disabilitas, SOP keselamatan kerja dan bukti APD, hingga data MRV dan foto geotagging. Simulasi dilakukan antara lain melalui studi kasus Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Desa Lambosir serta pemetaan rencana kerja berbasis hasil di sejumlah provinsi penerima.

Pemahaman peserta meningkat signifikan

Efektivitas pelatihan juga diukur melalui Pre-Test dan Post-Test yang diikuti 29 peserta dengan 15 soal pilihan ganda terstandar.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang sangat signifikan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 14,21 menjadi 14,93 dari skor maksimal 15, atau naik 0,72 poin (5,1 persen).

Yang paling menonjol, jumlah peserta yang memperoleh nilai sempurna 15/15 meningkat dari 10 orang (34,5 persen) pada Pre-Test menjadi 27 orang (93,1 persen) pada Post-Test. Sementara itu, peserta dengan nilai 13 yang sebelumnya berjumlah empat orang tidak lagi ditemukan pada Post-Test.

Capaian tersebut tersebar di hampir seluruh wilayah peserta. 11 dari 12 provinsi mencapai rata-rata Post-Test 15/15, sementara Papua Barat Daya meningkat dari rata-rata 13,00 menjadi 14,50. Sulawesi Utara bahkan mempertahankan capaian sempurna dari Pre-Test hingga Post-Test.

Hasil ini memperlihatkan bahwa penguatan kapasitas tidak hanya berlangsung pada tingkat pemahaman konseptual, tetapi juga berhasil meningkatkan kesiapan peserta dalam memahami instrumen APPS SISREDD+ dan prinsip safeguard BPDLH. Laporan evaluasi menyimpulkan bahwa peningkatan kapasitas berlangsung merata di seluruh provinsi, dengan 93,1 persen peserta berhasil mencapai skor sempurna pada Post-Test.

Peserta menilai materi aplikatif dan relevan

Selain evaluasi kuantitatif, peserta memberikan umpan balik secara anonim melalui metode Metoplan. Secara umum, peserta mengapresiasi materi yang dinilai komprehensif dan aplikatif, terutama dalam membantu daerah menyelaraskan dokumen APPS dengan kepatuhan BPDLH.

Kualitas narasumber dan fasilitator dari Kementerian Kehutanan, BPDLH, serta tenaga ahli juga mendapatkan apresiasi karena dinilai menguasai materi dan mampu memberikan pendampingan praktik secara komunikatif. Metode pembelajaran yang menggabungkan pemaparan teori, kerja kelompok, simulasi penapisan risiko, dan presentasi antarprovinsi turut membuat proses belajar berlangsung interaktif.

Meski demikian, peserta juga memberikan sejumlah masukan untuk pelaksanaan berikutnya. Salah satunya adalah kebutuhan waktu yang lebih panjang untuk sesi praktikum penapisan risiko dan penyusunan MoV. Peserta mengusulkan agar workshop berikutnya dapat berlangsung selama empat hari dan dilengkapi sesi konsultasi atau klinik pendampingan yang lebih intensif.

Tidak berhenti di ruang pelatihan

Workshop ini kemudian ditindaklanjuti melalui Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang disepakati bersama oleh 12 pemerintah provinsi dan lembaga penyedia.

Tahap awal diarahkan pada pembentukan dan legalisasi tim penulis Summary Safeguard daerah melalui SK Kepala Dinas/Gubernur. Selanjutnya, pemerintah daerah akan melakukan pengumpulan, kompilasi, dan digitalisasi dokumen MoV APPS dan ISP BPDLH.

Pada September 2026, agenda dilanjutkan dengan klinik pendampingan daring (online coaching) untuk finalisasi APPS dan penapisan risiko. Seluruh proses ditargetkan berujung pada finalisasi serta pengunggahan resmi dokumen Summary Safeguard dan data APPS ke portal SISREDD+ pada akhir September 2026.

Rangkaian kegiatan tiga hari ini menunjukkan bahwa penguatan safeguard bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan bagian penting dari tata kelola program REDD+ yang kredibel. Dengan semakin kuatnya kapasitas pemerintah daerah dalam mengidentifikasi risiko, menyiapkan bukti pelaksanaan, menerapkan prinsip inklusi, serta mengelola data safeguard, implementasi RBP GCF Output 2 diharapkan dapat berjalan semakin transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

Workshop yang berlangsung pada 4–6 Agustus 2026 tersebut dinilai telah memenuhi target yang ditetapkan dalam TOR, sekaligus menghasilkan peningkatan kapasitas peserta yang terukur melalui capaian rata-rata Post-Test 14,93/15,00 dan 93,1 persen peserta memperoleh nilai sempurna.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/Agustus-2026-Pelatihan-SIS-REDD-2-scaled.jpg 1440 2560 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-08-06 09:11:062026-09-15 16:21:28Perkuat Tata Kelola Safeguard REDD+, Pemerintah Daerah dari 12 Provinsi Ikuti Workshop SISREDD+ dan ESMS BPDLH

Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Karhutla, DLHK Riau Tingkatkan Kapasitas MPA dan MTB di Desa Aliantan

16 Juli 2026/in Liputan /by Admin PCC

ROKAN HULU, 16 Juli 2026 — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuntut kesiapsiagaan terstruktur, cepat, dan terkoordinasi langsung dari lini terdepan di tingkat tapak. Pada Kamis, 16 Juli 2026, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau melalui dukungan Program RBP REDD+ GCF Output 2 menggelar pelatihan dan simulasi peningkatan kapasitas penanggulangan karhutla di Desa Aliantan, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu. Agenda ini difokuskan untuk menggembleng kesiapan Masyarakat Peduli Api (MPA) bersama Masyarakat Tanggap Bencana (MTB) sebagai garda pertama pencegahan bencana asap di wilayah rawan tersebut.

Pelatihan dibuka dengan pendalaman teori dasar manajemen karhutla, pengenalan sistem peringatan dini, serta pembacaan arah angin dan perilaku api di berbagai tipe tutupan vegetasi. Para peserta dibekali pemahaman mendalam terkait pentingnya deteksi titik panas (hotspot) secara cepat serta prosedur standar pelaporan berjenjang ke UPT KPH dan posko siaga provinsi. Pengetahuan ini ditekankan agar tindakan mitigasi awal dapat segera dieksekusi sebelum api meluas tak terkendali.

Memasuki sesi lapangan, suasana semakin intens saat para relawan MPA dan MTB terjun langsung mengikuti simulasi skenario pemadaman basah. Peserta dilatih mengoperasikan mesin pompa jinjing berkekuatan tinggi, menyambung dan menggelar rangkaian selang secara taktis menembus vegetasi lebat, hingga mengamankan pasokan sumber air di lapangan. Selain teknik semburan langsung ke lidah api, instruktur dari DLHK Riau juga menekankan teknik pembuatan sekat bakar manual (firebreak) serta pendinginan tuntas (mopping up) guna memastikan bara tersembunyi benar-benar padam tanpa sisa.

Sinergi antara DLHK Provinsi Riau, jajaran KPH, dan unsur masyarakat di Desa Aliantan ini menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak dapat bertumpu pada intervensi sesaat, melainkan pada kemandirian masyarakat lokal yang terlatih dan solid. Penguatan kapasitas ini tidak hanya meminimalkan risiko kerugian ekologis dan ekonomi warga desa, tetapi juga menjadi bukti komitmen berkelanjutan dalam menjaga cadangan karbon hutan Riau sesuai target kerangka kerja REDD+.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/16Juli.png 720 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-07-16 09:08:212026-09-17 09:13:56Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Karhutla, DLHK Riau Tingkatkan Kapasitas MPA dan MTB di Desa Aliantan

Pemprov Papua Barat Daya Dukung Pengembangan Jurisdictional REDD+

25 Juni 2026/in Liputan /by Admin PCC

Sorong, 25 Juni 2026 — Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Program Jurisdictional REDD+ (JREDD+) sebagai bagian dari upaya perlindungan hutan, pembangunan rendah emisi, dan pengelolaan hutan berkelanjutan. Dukungan tersebut disampaikan dalam audiensi antara Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Yayasan Penabulu yang berlangsung di Kantor Gubernur Papua Barat Daya pada 23–25 Juni 2026.

Audiensi merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Program RBP REDD+ GCF Output 2 dan diikuti oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, Dinas Kehutanan, Yayasan Penabulu, Tim Program RBP REDD+ GCF Output 2, serta pemerintah dan masyarakat Kampung Batu Lobang dan Kampung Klalik. Dalam pertemuan tersebut, Yayasan Penabulu memaparkan capaian program, potensi Papua Barat Daya sebagai wilayah High Forest Low Deforestation (HFLD), konsep JREDD+, kebutuhan penyusunan FRL/FREL, roadmap pengembangan program, serta peluang pendanaan berbasis hasil melalui pendekatan ART-TREES.

Selain audiensi, tim melakukan monitoring lapangan di Kabupaten Sorong untuk melihat perkembangan kegiatan RBP REDD+ GCF Output 2, khususnya pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) madu Trigona di Kampung Batu Lobang dan pemanfaatan bantuan bibit penghijauan di Kampung Klalik. Di Batu Lobang, masyarakat tengah mempersiapkan lahan untuk penempatan koloni lebah Trigona dan membutuhkan pendampingan teknis berkelanjutan. Sementara di Kampung Klalik, seluruh bibit yang disalurkan telah ditanam di kebun masyarakat maupun pekarangan rumah dan diharapkan mendukung rehabilitasi lingkungan serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.

Dari rangkaian kegiatan tersebut, terbangun komitmen awal Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk mengembangkan kerangka JREDD+. Yayasan Penabulu didorong menjadi mitra teknis pemerintah provinsi, sementara kerja sama akan ditindaklanjuti melalui penyusunan Surat Penunjukan, Nota Kesepahaman (MoU), dan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Selanjutnya, para pihak akan memperkuat koordinasi teknis, menyusun roadmap kesiapan JREDD+, serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten, masyarakat adat, dan mitra pembangunan.

Melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan, Papua Barat Daya diharapkan dapat memperkuat perlindungan hutannya sekaligus membuka peluang pembiayaan berbasis hasil untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan rendah emisi.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/Audiense-Gubernur-PBD.jpg 886 1181 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-06-25 19:19:452026-09-16 07:21:14Pemprov Papua Barat Daya Dukung Pengembangan Jurisdictional REDD+

Dari Bank Sampah Hingga Kebun Desa: Warga Lambang Sari V Siap Wujudkan Program Kampung Iklim Bersama RBP REDD+ Riau

18 Juni 2026/in Liputan /by Admin PCC

INDRAGIRI HULU — Upaya menahan laju perubahan iklim tidak selalu bermula dari panggung kebijakan global, melainkan dari langkah-langkah nyata yang dirawat warga di pekarangan dan sudut-sudut desa. Semangat inilah yang mengemuka dalam agenda Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Kampung Iklim (ProKlim) di Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu pada 18 Juni 2026. Melalui dukungan terpadu Program RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi Riau, pertemuan ini menjadi katalisator penting dalam membekali aparatur desa, tokoh masyarakat, serta kelompok perempuan dan pemuda setempat mengenai peran sentral aksi mitigasi dan adaptasi iklim berbasis komunitas.

Pertemuan yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut mengungkap fakta membanggakan: Desa Lambang Sari V sesungguhnya telah menjalankan fondasi ekonomi sirkular yang solid. Warga telah aktif mengelola bank sampah terintegrasi, membudidayakan maggot untuk mengurai sampah organik secara cepat tanpa mencemari tanah, serta mengolah limbah anorganik menjadi produk bernilai jual. Tak berhenti di situ, pembuatan lubang biopori secara mandiri di permukiman warga telah menjadi benteng penyerapan air tanah sekaligus solusi praktis mereduksi limpasan air hujan saat musim basah. Praktik-praktik mandiri ini dinilai menjadi modal awal yang sangat potensial untuk diregistrasikan dan dikembangkan ke dalam skema ProKlim resmi Kementerian LHK.

Pemaparan materi bimtek turut menegaskan bahwa ProKlim melampaui sekadar agenda kelestarian ekologis. Penerapannya terbukti mampu menopang kesejahteraan ekonomi dan mempererat kohesi sosial warga. Terlebih, struktur ProKlim memiliki fleksibilitas tinggi yang dapat diimplementasikan secara bertahap, mulai dari level rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), dusun, hingga mencakup seluruh hamparan desa sesuai dengan dinamika kesiapan modal sosial masing-masing wilayah.

Usai pendalaman teori dan sesi diskusi, tim bersama jajaran pemerintah desa dan warga langsung turun ke lapangan untuk memvalidasi bentang potensi lokal. Survei tapak memperlihatkan kebun desa yang terkelola asri dengan aneka vegetasi peneduh dan tanaman produktif, termasuk komoditas singkong yang kini telah bertransformasi menjadi produk olahan keripik singkong bernilai tambah tinggi. Di sisi lain, keberadaan sentra peternakan ayam petelur warga menjadi pilar penopang ketahanan pangan lokal yang minim emisi distribusi. Seluruh potensi ini menjadi bukti autentik bahwa ketahanan pangan dan ekonomi kreatif di Desa Lambang Sari V berjalan beriringan dengan agenda perlindungan lingkungan.

Antusiasme tinggi tersebut bermuara pada komitmen penuh warga untuk mengawal pelembagaan ProKlim di desanya. Masyarakat menaruh harapan besar pada pendampingan berkelanjutan ke depan, terutama dalam pemantapan kelembagaan pengelola iklim desa, penyediaan sarana dan prasarana penunjang aksi mitigasi-adaptasi, serta penguatan kapasitas teknis kelompok secara berkesinambungan. Keseriusan Desa Lambang Sari V ini menjadi contoh konkret bagaimana program RBP REDD+ GCF mampu menyentuh denyut nadi masyarakat tapak untuk bertumbuh tangguh menghadapi krisis iklim.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/18-Juni.png 810 1080 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-06-18 11:54:432026-09-19 19:38:18Dari Bank Sampah Hingga Kebun Desa: Warga Lambang Sari V Siap Wujudkan Program Kampung Iklim Bersama RBP REDD+ Riau

Perkuat Peran Masyarakat Cegah Karhutla, MPA Desa Garung Resmi Dibentuk dan Diperkuat

15 Juni 2026/in Liputan /by Admin PCC

Pulang Pisau, Juni 2026 — Upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas masyarakat di tingkat tapak. Salah satunya dilakukan melalui Kegiatan Fasilitasi Pembentukan dan Penguatan Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Garung, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang dilaksanakan pada 2–4 Juni 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah ini bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dalam pencegahan serta penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, sekaligus membentuk kelembagaan masyarakat yang dapat berperan aktif dalam menghadapi ancaman karhutla di wilayahnya.

Membangun Kesiapsiagaan dari Tingkat Desa

Desa Garung merupakan salah satu wilayah yang berada di sekitar kawasan TAHURA Isen Mulang Sebangau Berkah. Kondisi tersebut menjadikan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan hutan dan pencegahan karhutla.

Selama tiga hari kegiatan, sebanyak 17 peserta mengikuti rangkaian pembentukan dan penguatan MPA yang dilaksanakan di Aula Kantor Desa Garung. Kegiatan menghadirkan narasumber dari berbagai unsur, antara lain Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, TAHURA Isen Mulang Sebangau Berkah, KPH Kahayan Hilir, serta praktisi pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada keterampilan praktis yang dibutuhkan masyarakat ketika menghadapi potensi kebakaran. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai profil TAHURA Isen Mulang Sebangau Berkah, pembentukan MPA, teknik dasar pengendalian kebakaran hutan dan lahan, teknik pencegahan dan penanggulangan karhutla, metode pemadaman dan pengenalan peralatan karhutla, simulasi deteksi dini, pemadaman awal, serta keselamatan kerja di lapangan.

Tidak Hanya Teori, Peserta Ikuti Praktik Lapangan

Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah praktik langsung. Peserta diperkenalkan dengan peralatan pemadaman dan mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan teknik dasar pemadaman.

Praktik meliputi penggunaan peralatan pemadaman, simulasi deteksi dini, hingga praktik pemadaman menggunakan peralatan yang tersedia. Dokumentasi kegiatan juga menunjukkan peserta melakukan praktik penggunaan peralatan pemadaman serta praktik pemadaman dengan melibatkan praktisi dari KPH Kahayan Hilir dan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah.

Pendekatan praktik ini diharapkan membuat masyarakat tidak hanya memahami bahaya karhutla, tetapi juga memiliki kesiapan ketika harus melakukan tindakan awal di lapangan.

MPA Desa Garung Resmi Dibentuk

Hasil penting dari kegiatan ini adalah terbentuknya Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Garung. Pembentukan kelompok dilakukan melalui musyawarah masyarakat dan kemudian diperkuat melalui keputusan Kepala Desa.

Struktur organisasi MPA juga telah ditetapkan, dengan melibatkan unsur masyarakat Desa Garung sebagai bagian dari kelompok yang akan menjalankan fungsi pencegahan dan penanggulangan kebakaran di tingkat desa.

Pembentukan MPA ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun sistem kesiapsiagaan masyarakat yang lebih terorganisasi. MPA tidak hanya diharapkan bergerak ketika kebakaran telah terjadi, tetapi juga berperan dalam pencegahan, deteksi dini, penyampaian informasi, pemadaman awal, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya karhutla.

Penguatan Kapasitas dan Sarana Pendukung

Selain pembentukan kelembagaan, kegiatan juga menghasilkan peningkatan kapasitas anggota MPA melalui pembekalan teknis. Peserta diharapkan mampu melakukan pemadaman secara mandiri apabila menemukan sumber api serta mendukung upaya pencegahan dan pengendalian karhutla di wilayah Desa Garung.

Dalam kegiatan tersebut, MPA juga memperoleh dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang pelaksanaan tugas, di antaranya satu unit pompa air portable dan lima paket perlengkapan personel. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan kelompok ketika melakukan kegiatan pencegahan maupun penanganan awal karhutla.

Mendorong Masyarakat Menjadi Garda Terdepan

Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal dan kawasan hutan. Masyarakat yang berada dekat kawasan TAHURA diharapkan memiliki kepedulian dan kewaspadaan lebih tinggi terhadap potensi terjadinya kebakaran.

Ke depan, MPA Desa Garung diharapkan dapat melakukan pertemuan rutin, meningkatkan koordinasi dengan para pihak, melakukan pemantauan wilayah, serta terlibat dalam kegiatan patroli terutama pada musim kemarau/rawan kebakaran. Pembinaan dan penguatan kapasitas MPA juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kelompok dapat menjalankan tugas secara optimal.

Dengan terbentuknya MPA Desa Garung, upaya pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat terkait, tetapi juga menjadi gerakan bersama masyarakat di tingkat desa.

Dari Desa Garung, kesiapsiagaan terhadap karhutla dibangun dari tingkat tapak—dengan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga hutan, lahan, dan lingkungan sekitarnya.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/Juni-2026-MPA-Garung.jpeg 1200 1600 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-06-15 09:07:172026-09-15 16:21:04Perkuat Peran Masyarakat Cegah Karhutla, MPA Desa Garung Resmi Dibentuk dan Diperkuat

Rapatkan Barisan di Tingkat Tapak: Polhut Riau dan KPH Rokan Gandeng Masyarakat Amankan Hutan Menaming

9 Juni 2026/in Liputan /by Admin PCC

ROKAN HULU, 9 Juni 2026 — Menjaga tegakan hijau di bumi Lancang Kuning membutuhkan komitmen nyata yang berakar kuat di tingkat tapak. Pada Selasa, 9 Juni 2026, melalui dukungan Program RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi Riau, benteng perlindungan hutan kembali diperkokoh lewat aksi kolaboratif di Desa Menaming, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu. Kawasan yang berbatasan langsung dengan hamparan perbukitan dan memiliki peran hidrologis krusial ini menjadi saksi ketangguhan sinergi antara Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rokan, Polisi Kehutanan (Polhut) Provinsi Riau, serta Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dalam memastikan kelestarian alam tetap terjaga dari ancaman degradasi.

Langkah pengamanan intensif ini diwujudkan melalui patroli bersama menyusuri jalur-jalur rawan perambahan liar serta pemasangan plang larangan dan imbauan hukum di titik-titik batas strategis kawasan hutan. Pemasangan plang tersebut menjadi penegasan batas ruang kelola yang jelas sekaligus instrumen edukasi publik agar tidak ada lagi aktivitas pembukaan lahan tanpa izin. Kehadiran plang informasi ini juga memberikan kepastian hukum yang kokoh bagi petugas dan masyarakat setempat dalam mengawal batas hijau desa mereka dari okupasi ilegal.

Tidak hanya mengantisipasi aktivitas pembalakan liar, patroli terpadu ini menempatkan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai prioritas mitigasi lingkungan. Mengingat kerentanan cuaca dan kondisi serasah di musim kemarau, tim gabungan secara aktif memantau titik-titik rawan api, mengecek ketersediaan sumber air alami, serta memberikan sosialisasi persuasif door-to-door kepada warga peladang agar mutlak meninggalkan praktik membuka lahan dengan cara membakar. Pendekatan pencegahan dini ini menjadi kunci utama dalam mempertahankan cadangan karbon hutan sesuai mandat kerangka kerja REDD+.

Semangat dedikasi tinggi terpancar jelas dari para personel Polhut Provinsi Riau dan jajaran UPT KPH Rokan yang bahu-membahu melintasi medan bergelombang bersama anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Keterlibatan aktif MMP membuktikan bahwa pengamanan hutan tidak lagi dipandang sebagai tugas aparat semata, melainkan kerja bersama masyarakat yang memiliki rasa kepemilikan mendalam terhadap hutannya. Kolaborasi harmonis di Desa Menaming ini menjadi potret konkret bagaimana perlindungan bentang alam di Riau dijalankan secara terstruktur, partisipatif, dan berkelanjutan.

https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/10juni.png 960 1280 Admin PCC https://carbonconnect.penabulufoundation.org/wp-content/uploads/2026/09/logo-carbon-connect-1.png Admin PCC2026-06-09 11:40:222026-09-17 11:42:30Rapatkan Barisan di Tingkat Tapak: Polhut Riau dan KPH Rokan Gandeng Masyarakat Amankan Hutan Menaming
Page 1 of 41234
  • BERANDA
  • PROFIL
    • Penabulu
    • Latar
    • Sistem
  • PROGRAM
    • Program Berjalan
    • Program Lalu
  • DOKUMENTASI
    • Kajian dan Laporan
    • Liputan Kegiatan
    • Panduan dan Modul
    • Berita Media
  • KONTAK

Berita Media

  • Memperkuat Pengelolaan Sampah Organik Menuju Desa Tangguh Iklim
  • Pemprov PBD terapkan skema jual beli karbon optimalkan potensi hutan
  • Temui Menteri LHK, Gubernur Riau Bahas RPB REDD+ sebagai Skema Pendanaan Lingkungan
Berita selengkapnya

VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=jscKBSRaCO8&t

HUBUNGI KAMI

Jl. Dukuh Patra II No.76, RT.1/RW.13, Menteng Dalam, Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12870

t: (021) 38825484
e: info@penabulu.id

© 2026 Penabulu Carbon Connect
  • Bagian dari Penabulu Foundation
Scroll to top Scroll to top Scroll to top