Dari Sampah Plastik Jadi Tas Belanja: Kalampangan Dorong Ekonomi Sirkular dan Gaya Hidup Minim Sampah
Palangka Raya, November 2025 — Sampah plastik tidak selalu berakhir sebagai limbah. Di Kelurahan Kalampangan, Kalimantan Tengah, masyarakat mulai mengolahnya menjadi produk bernilai guna melalui kegiatan Pembinaan dan Pelatihan Pengolahan Tas Belanja dari Sampah Plastik yang dilaksanakan pada 4 November 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus memperkuat peran Kampung Iklim dalam penerapan ekonomi sirkular.
Pelatihan tersebut dilatarbelakangi masih tingginya timbulan sampah di Kalimantan Tengah serta belum optimalnya pemilahan sampah organik dan anorganik dari sumbernya. Data dalam dokumen menunjukkan timbulan sampah meningkat dari 498.248 ton pada 2023 menjadi 504.895 ton pada 2024. Di sisi lain, pengurangan sampah melalui daur ulang meningkat, sementara pemanfaatan kembali (reuse) masih belum optimal. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memperkuat inovasi pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.
Melalui pelatihan ini, masyarakat Kalampangan dibekali kemampuan mengolah sampah plastik menjadi tas belanja yang memiliki nilai guna dan berpotensi dipasarkan. Kegiatan juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi produk olahan masyarakat sehingga tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah plastik, tetapi juga membuka peluang ekonomi lokal. Dokumentasi kegiatan memperlihatkan peserta mengikuti proses pembelajaran dan praktik pembuatan tas menggunakan mesin jahit.
Inisiatif tersebut sekaligus memperkuat pengembangan Kampung Iklim (ProKlim) Kalampangan sebagai bagian dari jejaring ProKlim di Kalimantan Tengah. Pengolahan sampah menjadi produk 3R (reduce, reuse, recycle) diharapkan dapat menjadi contoh praktik ekonomi sirkular yang menghubungkan upaya perlindungan lingkungan dengan peningkatan kapasitas dan peluang ekonomi masyarakat.
Ke depan, penguatan promosi, branding, dan distribusi produk menjadi bagian penting agar produk ramah lingkungan hasil masyarakat mampu bersaing dengan produk berbahan plastik sekali pakai. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kunci agar inovasi pengelolaan sampah seperti ini dapat berkembang dan mendukung target Zero Waste 2030.



